Dulu, saat masih bekerja sebagai dosen dan pelamar kerja, aku pernah chatting dengan seseorang. Awalnya, isi chattingnya hanya hal-hal standar seperti say hi dan tanya kabar. Tapi lama-lama pembicaraan mulai panas ketika "beliau" menanyakan apa kegiatanku saat itu.Dengan jujur aku jawab kalau aku masih sibuk melamar kerja disana-sini. Walaupun sudah berstatus sebagai dosen (masih dalam masa percobaan sih). Pembicaraan berlanjut dengan pertanyaan mengenai alasanku melamar kerja meskipun aku sudah punya pekerjaan. Aku jawab bahwa aku pingin mengenal banyak orang, belajar menghadapi berbagai macam tipe orang, pingin punya teman baru dan lingkungan baru. Menurutku, alasanku ini masuk akal. Mengingat tempatku bekerja sebagai dosen, sama dengan tempatku belajar selama 4 tahun. Rekan kerjaku adalah dosenku yang sedari dulu sudah kukenal. Kebayang kan ? gedung yang sama, tempat makan yang sama, orang yang sama, jalan yang sama. Jenuh dan bosan. Apalagi aku termasuk orang yang tidak bisa berada pada kondisi dan situasi yang sama secara terus-menerus. Empat tahun kurasa sudah cukup untukku.
Kutekankan pada si penanya bahwa aku ingin belajar bagaimana bersikap dan menghadapi berbagai macam tipe orang. Dan pelajaran itu tidak kudapatkan di sana. Dia menimpali jawabanku dengan pernyataan : "Kan banyak buku yang bisa kamu baca mengenai hal itu". Oke, itu benar. Tapi kalau disertai dengan latihan, hasilnya akan lebih bagus. Aku analogikan hal ini dengan seorang koki. Orang yang ingin menjadi koki yang hebat, tidak bisa hanya dengan membaca buku memasak. Dia butuh banyak latihan. Begitu juga yang kuinginkan dalam hidupku. Tapi sayangnya si penanya masih mempertahankan pendapatnya bahwa cukup dengan membaca buku saja, seseorang bisa menjadi ahli. Hmmmhhh.... Sisa chatting kami hari itu berisi perbedaan pendapat yang benar-benar tidak bisa disatukan. Apalagi aku mendapat kesan kalau si penanya tidak suka dengan keputusanku untuk melamar kerja di tempat lain, mengingat statusku yang sudah bekerja. Ya suka-suka dong ! Ini hidupku, dan aku berhak untuk melakukan apapun atas hidupku.Sebenarnya aku termasuk orang yang sangat terbuka dengan pendapat orang lain. Itu hak mereka. Tapi kalau orang tersebut mulai merasa bahwa pendapatnya adalah yang paling benar dan pendapatku adalah sesuatu yang perlu dibenarkan, maka aku tidak bisa tinggal diam. Yang bikin bete ya itu, udah jelas salah, eeee... teteup aja ngotot.
Mengenai isi chatting itu sendiri, aku tetep pada pendirianku. Untuk bisa ahli dalam melakukan sesuatu, banyak faktor yang berpengaruh. Tidak hanya dengan membaca buku saja. Kurasa kombinasi dari membaca buku dan latihan adalah yang paling bagus. Apalagi jika ditambah dengan banyak bertanya pada orang yang sudah ahli. Seorang yang ingin bisa memasak, pertama-tama membaca buku masak. Dia ikutin semua petunjuk dalam buku itu. Kadang, masakannya ada yang langsung enak. Tapi sering pula gagal dan tidak bisa dimakan. Itu wajar. Untuk bisa lebih pandai memasak, dia terus berlatih dan berlatih sehingga akhirnya hasil masakannya selalu enak. Dan jadilah dia seorang koki yang ahli. Mungkinkah kita menjuluki orang yang menyelesaikan membaca buku memasak dan tidak pernah memasak menjadi koki ahli ? tidak kan.
gambar buku diambil dari www.davidrobertbooks.com
gambar orang masak dimbil dari homeexchangetravel.blogs.com

0 komentar:
Post a Comment